Cari Blog Ini

Sabtu, 01 Mei 2010

PEMANFAATAN SAMPAH DAUN SEBAGAI BAHAN KERTAS SENI

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Melihat lingkungan di sekitar kita, banyak sampah menumpuk di sana – sini yang menjadikan lingkungan kita menjadi kotor dan kurang nyaman untuk di tempati. Mulai dari sampah plastik, kertas, karet, makanan sisa dan sebagainya. Serta yang paling banyak dijumpai di sekitar kita adalah sampah organic dari daun yang berguguran atau pohon yang tumbang. Yang menjadi masalah dari semua itu adalah tidak maksimalnya pengelolaan atau penanganan sampah baik yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri maupun pemerintah.

Sudah dilakukan berbagai upaya untuk menangani sampah-sampah tersebut. Misalnya di dalam kota besar dibuatkan suatu wilayah atau tempat yang khusus digunakan untuk membuang sampah akhir (TPA), tetapi hal ini juga memicu masalah baru karena sampah yang menumpuk tidak bisa habis dan menimbulkan polusi di lingkungan sekitar sekitarnya. Demikian juga di daerah yang masih terbilang ada lahan untuk membuang sampah, akan tetapi masyarakatnya yang kurang mempedulikan kesehatan lingkungannya. Ada yang memanfaatkan sampah daun untuk digunakan sebagai pupuk kompos meski jumlahnya sedikit, tetapi di sisi lain sampah plastic tidak bisa diberdayakan dan hanya dibuang atau dibakar sehingga akan merusak struktur tanah atau tanah menjadi tidak subur.

Ada suatu solusi agar sampah-sampah itu tidak menjadi masalah terus di kemudian hari sehingga ekosistem tetap terus terjaga. Yaitu dengan mengelola sampah itu menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Mengingat semakin berkurangnya lahan untuk membuang sampah padahal setiap hari sampah selalu bertambah dan juga meskipun samapah itu dapat dibakar, namun juga tidak menyebabkan sampah itu habis sebaliknya akan menyebabkan polusi udara di lingkungan sekitar.

Dalam pengelolaan sampah agar menjadi barang yang lebih bermanfaat, maka diperlukan perhatian dari semua pihak atau kesadaran pribadi dari setiap manusia yang hidup di bumi ini. Yaitu mulai dari setiap diri pribadi untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat. Kemudian memisahkan sampah organic atau anorganik untuk dikelola dengan cara yang berbeda. Sampah organic dari sisa makan dapat digunakan sebagai makanan ternak atau sebagai bahan pembuat biogas. Sampah anorganik misalnya dari plastic dapat di daur ulang kembali menjadi barang/perlengkapan rumah tangga yang bermanfaat. Sampah kertas juga dapat di daur ulang sebagai kertas seni atau menjadi bubur kertas. Samapah organic dari pohon dapat digunakan sebagai pupuk kompos dan sebagainya.

Melihat dari hal – hal di atas, penulis mencoba menuangkan gagasan untuk membantu mengurangi sampah yang ada di sekitar yaitu dengan memanfaatkan sampah daun sebagai bahan pembuat kertas seni. Landasan yang menjadi pemikiran penulis untuk menuangkan gagasan ini adalah karena daerah yang menjadi tempat tinggal penulis adalah daerah pedesaan di mana banyak sampah dari pohon atau tumbuhan yang kurang termanfaatkan maka penulis mencoba memanfaatkan sampah daun untuk membuat kertas seni mengingat bahan dasar kertas juga berasal dari kayu sehingga penulis berasumsi bahwa daun dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas.

B. PERUMUSAN MASALAH

Dalam penelitian ini akan dikaji beberapa masalah antara lain :

1. Apakah sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas?

2. Bagaimanakah cara pembuatan kertas dari sampah daun?

3. Apakah kertas dari sampah daun dapat bermanfaat?

C. PEMBATASAN MASALAH

Untuk mengarahkan permasalahan yang ada dari penelitian ini, maka diperlukan pembatasan masalah agar dapat disimpulkan dengan baik, yaitu:

1. Sampah yang digunakan dalam penelitian ini digunakan sampah daun kering yang ada di lingkungan SMA Negeri 1 Girimarto.

2. Kertas yang dibuat dalam penelitian ini adalah kertas seni.

D. TUJUAN PENELITIAN

Dalam penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengurangi sampah yang ada disekitar untuk dijadikan sebagai barang yang lebih bermanfaat.

2. Mengetahui apakah sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni.

3. Mempopulerkan kertas seni sebagai bahan untuk membuat perlengkapan rumah tangga atau hiasan yang dapat diperoleh dengan biaya yang tidak mahal.

E. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dalam penelitian ini adalah :

1. Memanfaat barang yang sudah tidak berdaya guna untuk dibuat menjadi sesuatu yang bermanfaat.

2. Sedikit membantu dalam upaya menciptakan lingkungan yang nyaman, bersih dan sehat.

3. Meningkatkan kreatifitas untuk memanfaatkan sampah daun kering sebagai bahan pembuat kertas seni.

F. HIPOTESIS

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni.

2. Pembuatan kertas seni dari sampah daun kering dapat dibuat dengan membuat bubur kertas kering yang dicetak pada sebuah papan berukuran kertas A4.

3. Kertas seni dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat perlengkapan rumah tangga atau hiasan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN TENTANG SAMPAH DAUN KERING

Daun merupakan bagian dari tumbuhan yang keberadaannya sangat penting dalam proses fotosintesis. Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energy dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organism outrotrof obligat, maka ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energy cahaya menjadi energi kimia.

Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstrimnya bisa meruncing panjang. Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.

Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasamannya). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada yang gugur). (www.alamkita.com)

Daun tua yang kehilangan klorofilnya berguguran dari pohonnya dan ini akan menjadi sampah pada akhirnya. Sampah dari daun setiap hari aka nada dan tidak akan pernah habis selama tumbuhan masih ada. Sampah daun biasanya dimanfaatkan petani untuk pupuk kompos, namun hal ini juga tidak akan banyak dan masih menyisakan sampah. Apalagi di perkotaan, sampah daun tidak dimanfaat dan akan memenuhi tata ruang kota karena lahan untuk membuang sampah sangat terbatas sekali.

B. TINJAUAN TENTANG PEMBUATAN KERTAS

1. Sejarah Kertas

Keberadaan kertas dalam kehidupan manusia cukup penting, karena kertas berfungsi sebagai pencatat ilmu pengetahuan, media untuk promosi perdagangan, sarana untuk menyampaikan pikiran tentang gagasan, dan lain-lain. Di atas permukaannyalah terletak berbagai informasi yang ingin disampaikan, misalnya tulisan atau gambar.

Masalah utama yang dihadapi para pembuat kertas produksi missal saat ini yang dikerjakan dengan menggunakan mesin serba otomatis, serupa dengan masalah pembuat kertas di China pada zaman dahulu, yaitu masalah untuk mendapatkan dan menggunakan bahan-bahan yang cocok untuk pembuatan kertas, masalah bagaimana membuat bubur kertas dan membentuk kertas agar awet dan wujudnya menarik atau bagus, dan masalah bagaimana membuat kertas yang halus atau enak untuk disentuh dan menarik untuk dilihat.

Sebelum kertas diketemukan, manusia telah mengetahui bagaimana mengungkapkan perasaan dirinya melalui bahasa gambar dan bahasa tulisan , sehingga mereka berusaha mencari permukaan-permukaan benda yang sekiranya cocok untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Pada awalnya cara mereka mengungkapkan perasaan melalui suatu kegiatan menggambar, seperti menggurat, mengukir, mentakik atau menoreh di atas permukaan batu, tulang belulang, dan sebagainya.

Tanda-tanda yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, dapat dibagi menjadi dua grup:

1) Piktografi atau tulisan berupa gambar (picture writting) hanya obyek-obyek tertentu yang digambarkan.

2) Ideografi atau tulisan yang mengungkapkan gagasan (ideawriting), memperlihatkan lebih dari satu gambar dan semuanya mempunyai nilai simbolik.

Batu sebagai sarana untuk berkomunikasi lewat tulisan, hampir sama sebagaimana bahan tersebut digunakan sebagai patung. Melalui medium ekspresi ini, maka suatu angka yang tidak berurutan dari catatan sejarah telah dibuat dan berlaku untuk masa dunia moderen saat ini. Orang Mesir telah memahat hieroglyphs dalam monumen batu yang disebut obelisks. Salah satu obelisks kuno itu, sekarang ini berdiri tegak di Central Park, New York. Bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris (Irak sekarang), sejarahnya diperkirakan dimulai sejak 3000 tahun yang lalu. Orang-orang Sumeria menciptakan dan menggunakan huruf-huruf paku (cuneiform), yang merupakan tulisan pertama yang dikembangkan di dunia. Ketika Sumeria ditaklukan, si pemenang berbaur dengan orang-orang Sumeria dan mengambil alih tulisannya.

Pada waktu itu tulisan paku masih di atas batu. Orang-orang Chaldea dari Babylonia Kuno, telah mencap tanda-tanda dengan alat ukur tulang ke dalam tanah liat dalam berbagai ukuran dengan huruf-huruf paku. Tanah liat tersebut kemudian dibakar sehingga menjadi keras. Hasil dari kegiatan tresebut dikirimkan dari satu orang ke orang lain, seperti halnya tulisan kertas berharga dan surat-surat yang dipertukarkan saat ini.

Ashurbanipal, penguasa Assyria, telah membentuk perpustakaan yang berisi tulisan di atas tanah liat ini.Penggunaan beberapa logam seperti kuningan, tembaga, perunggu dan timah, tidaklah diketahui pada awal peradaban. Dalam Bibel, referensi dibuat terhadap pemakaian timah untuk tulisan-tulisan permanen. Logam-logam yang lain digunakan dalam pemeliharaan atau pengawetan perjanjian-perjanjian, hukum-hukum dan persekutuan-persekutuan. Orang-orang Rowawi menggunakan perunggu dalam mencatat peringatan-peringatan mereka dan dalam medan pertempuran para serdadu Romawi memahat keinginan-keinginan mereka pada gesper logam atau pada sarung pedang mereka. Sebagai benda kesayangan, maka barang-barang perunggu tersebut dipahat dan diukir dengan nama-nama atau simbol mereka pada awalnya, kemudian ditulisi untuk memperingati suatu peristiwa atau menerangkan alasan bagi pembuatan benda-benda perunggu tersebut, atau untuk menerangkan cara menggunakannya, atau untuk mencatat nama-nama dari para pembuatnya. Buku-buku besar tersusun dari lembaran-lembaran kayu telah dipakai sebelum masa Homer (abad ke 9 SM). Bahan utama berasal dari kotak kayu dan pohon-pohon citron. Setiap bagian kayu biasanya ditutup dengan suatu lapisan kayu halus tipis dari lilin, kapur atau plester dan tanda- tanda atau tulisan ditorehkan pada lapisan itu dengan menggunakan sebuah logam atau tulang yang berbentuk lancip. Teknik ini memungkinkan untuk menghapuskan tulisan dengan cara pelapisan kembali lembaran-lembaran kayu tersebut. Papan-papan atau lembaran kayu itu kemudian diikat bersama-sama dengan sabuk kulit, sehingga menjadi susunan buku yang disebut codex. Buku meja tetap dipakai hingga abad ke 14. Di negeri timur tanda-tanda itu ditulis dalam bilah-bilah bambu kering yang diikat bersama-sama sehingga membentuk bundelan atau ikatan. Barang tersebut tanggung dan sukar untuk menyimpannya. Setiap kali buku dipergunakan, maka tali itu harus diikatkan kembali. Orang-orang China dahulu kala, tidak memberi nomor pada bilah-bilah bambu tersebut, sehingga akan membingungkan urutannya jika tali-tali yang mengikat putus atau bilah-bilah tersebut dibongkar. Menempatkan kembali pada urutan semula dari bilah-bilah tersebut, seringkali tidak bisa dilakukan. Menulis pada daun-daun palem dan jenis tumbuh-tumbuhan lain telah dipraktekkan sejak jaman dahulu kala di Romawi dan negara-negara Timur dekat. Daun-daun palem yang lebar dan berstrip-strip dari berbagai ukuran panjang dan lebar, kira-kira 2 inchi dipotong. Sebuah alat dari logam yang berbentuk lancip digunakan untuk menoreh daun tersebut. Hasil torehan kemudian diisi dengan semacam cat yang dibuat dari arang sehingga tulisan-tulisan tersebut menjadi jelas dan menonjol. Setiap lembar daun ditusuki untuk membuat 2 buah lubang dan daun-daun tersebut diikat bersama dengan tali untuk menjadi sebuah buku. Pemakaian daun-daun dari berbagai pohon tersebut menghadirkan istilah kata "leaf" yang saat ini mempunyai arti bagian dari sebuah buku. Kulit dari berbagai macam pohon telah digunakan sebagai bahan tulisan, hampir pada setiap periode dan daerah. Di jaman latin telah digunakan kulit pohon bagian dalam, dikenal dengan nama liber. Pada waktu itu, pengertian liber adalah istilah untuk buku itu sendiri dan kata "library" berasal dari istilah liber tersebut. Orang-orang Indian Amerika telah menulis bahasa simbol mereka dengan tongkat-tongkat kayu dan cat cair pada kulit pohon birch putih dari Amerika Utara. Penduduk asli Central dan Amerika Selatan, termasuk Mexico telah banyak mempunyai kesempatan membuat semacam kertas dengan cara memukul kulit bagian dalam pohon-pohon moraceous. Sejarah tidak memperlihatkan bahwa penduduk asli apa yang sekarang disebut Amerika Serikat pernah membuat kertas dari suatu bentuk atau jenis. Parchment adalah suatu bahan berupa lembaran yang terbuat dari kulit binatang, telah menduduki tempat yang sangat unik dan hebat dalam sejarah evolusi kertas. Ia membangkitkan suatu perasaan antik dan dihubungkan dengan kualitas yang secara praktis tiada tara bandingannya. Parchment mempunyai daya tahan lama dan bisa bertahan sampai ratusan tahun. Parchment telah menjadi pembawa nilai yang sangat berarti bagi catatan-catatan dan cerita-cerita dari jaman klasik Yunani hingga abad pertengahan, dan banyak parchment kuno yang tetap ada hingga sekarang sebagai saksi terhadap bahan yang sangat bermanfaat ini. Kata " parchment" diambil dari Pergamum, sebuah kota kuno Mysia di Asia Kecil. Para sarjana berpendapat bahwa parchment atau kertas dari kulit mungkin sudah digunakan sejak 1500 SM, akan tetapi parchment tersebut tidak digunakan menjadi permukaan untuk menulis sampai sekitar 200 SM kemudian. Kulit binatang telah terbukti menjadi yang paling sulit untuk penyediaannya, dan selalu menjadi masalah; yang lunak kontra yang keras, berlubang-lubang serta daya penerimaan permukaan terhadap berbagai macam media. Kulit binatang juga kenyal serta kuat dari banyak manipulasi dan perlakuan tangan penyamak. Ia bisa diberi warna, disemir. dibengkokkan dan diberi perhiasan dengan cara ditatah, diukir, dilubangi dan dijahit. Daya tahan pemakaiannya kuat atau tahan lama dan jika digoresi, diukir, atau disimpan karena tidak terpakai, wujudnya tetap bagus. Parchment yang sebenarnya tidak seperti halnya kulit, terbuat dari belahan kulit domba. Bagian terkecil dan sisi bulu-bulu domba dari kulitnya dibuat menjadi skiver, yaitu bahan yang cocok untuk dipakai dalam penjilidan buku. Daging dan sisi-sisi dari kulit diubah menjadi parchment atau kertas kulit dan akan menjadi kualitas yang paling bagus. Vellum terbuat dari kulit anak sapi atau kulit anak domba dan biasanya terbuat dari seluruh kulit itu. Perbedaan antara Vellum dan parchment terlihat pada butir-butir dan tanda-tanda rambut yang biasanya menghasilkan permukaan yang tidak teratur. Parchment biasanya lebih konsisten dalam penampilan dan tidak memiliki sifat-sifat elusive ini. Parchment dan vellum harus digores, digosok dengan kapur dan direntangkan sehingga kulit mempunyai bentuk penampilan yang rata. Setelah itu ditaburi dengan pasir dari batu apung yang halus agar permukaannya menjadi bagus untuk menulis dan kaligrafi. Penulisan selama berabad-abad telah dilakukan dengaan sangat selektif dengan kulit untuk menjamin kesamaan warna dan kualitas permukaan dalam penjilidan yang memerlukan banyak halaman. Parchment tetap terus dipakai sepanjang masa Renaissance dan disebutkan bahwa untuk menghasilkan sebuah duplikat tunggal dari Bibel Gutenberg, diperlukan kulit domba sebanyak 300 ekor. Parchment dan vellum masih selalu dibutuhkan sampai saat ini untuk mendapatkan diploma, sertifikat, hak-hak patent dan sebagainya dalam keadaan yang bagus dan alamiah. Para penulis kaligrafi mendapatkan bahan-bahan ini agar sesuai dan ideal dalam membuat karya. Percobaan pertama yang telah sangat berhasil dengan gemilang untuk pembuatan sebuah barang yang menyerupai kertas moderen seperti yang telah banyak dikenal selama ini, telah dibuat di Mesir pada jaman dahulu. Suatu tanaman air yang dikenal dengan nama papyrus telah menghasilkan bahan tersebut. Papyrus merupakan suatu tanaman yang sangat menarik perhatian, tangkainya tumbuh dari 10 hingga 15 kaki tingginya. Tangkainya berbentuk segi tiga secara bersilangan dan disekeliling dasarnya tumbuh beberapa daun yang berserabut pendek. Papyrus sangat halus atau rata, tanpa bonggol-bonggol dan duri-duri yang menuju pada kelompok bunga besar, nyaman dan berbentuk rumbai. Tanaman tersebut tumbuh dengan indah ditepian danau yang kecil dan sungai-sungai di bagiaan Afrika. Berasal dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus, kertas papyrus dibuat. Bagian-bagian ini dipisahkan dengan alat yang tajam, jarum panjang, atau kepah rumah siput yang lancip dan kemudian ditaburkan di atas sebuah meja dengan suatu lapisan tipis dari air dalam bentuk dan ukuran yang diperlukan untuk lembaran-lembaran itu. Pada lapisan pertama dibuat dari tuangan ini, yang kedua ditempatkan secara melintang untuk membentuk suatu lembaran dari ketebalan yang dikehendaki, kemudian di-press dan dikeringkan di panas matahari, kemudian digosok benda-benda yang halus tapi keras. Paling banyak adalah 22 lembar yang bisa dipisahkan dari satu tangkai dan yang paling dekat isi batang kayu atau pusat, yang paling baik dijadikan kertas. Perdagangan kertas orang Mesir telah berkembang dengan pesat pada abad ke 3 dan berlanjut hingga abad ke 5 SM. Tumbuhnya pemakaian kulit binatang serta perubahan-perubahan geografis daerah sungai Nil, telah mendorong terhadap matinya papyrus. Penanaman menjadi sukar dan papyrus menurun dengan drastis. Kata "paper", "papier" dan "papel" diambil dari kata latin papyrus. Biblios merupakan terminologi latin yang digunakan untuk arti bagian dalam serabut (fiber) dari tanaman papyrus dan tulisan pada lembaran-lembaran papyrus dikenal dengan sebutan biblia. (http://www.kertas-nyeni.blogspot.com)

2. Bubur Kertas

Kertas memiliki karakter cukup unik, terdiri dari bahan tipis dan rata yang dihasilkan dari kompresi serat. Serat yang digunakan biasanya adalah serat alami dan mengandung selulosa. Permukaan yang kasar justru membuat kertas tampak lebih alami dan artistic. Kertas juga merupakan bahan yang ringan dan mudah digunakan. Umumnya, orang menggunakan kertas sebagai media untuk menulis, mencetak, menggambar, membungkus, mengemas serta banyak kegunaan lain yang dapat digunakan dari lembaran – lembaran kertas. Kertas dibuat dari bubur kertas (pulp) yang diolah menjadi kertas. Kertas umumnya berbahan dasar serat kayu atau serat alam. (www.indosat.net.id.)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah sampah daun kering.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di laboratorium MIPA SMAN 1 Girimarto. Waktu penelitian dilaksanakan pada Bulan Desember 2008

C. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen yaitu dengan mengolah sampah daun kering menjadi bubur kertas yang dicetak pada kain screen dan dikeringkan menjadi kertas seni.

Adapun tahapan penelitiannya :

1. Penentuan subyek penelitian

2. Persiapan alat dan bahan

3. Pelaksanaan

4. Pengamatan

5. Penulisan laporan

D. Alat dan Bahan

1. Alat

a. Bleder

b. Ember/baskom

c. Skrap/pengaduk

d. Kain scren/cetakan sablon

e. Panci

f. Pemanas/kompor

g. Penyaring

2. Bahan (dalam ukuran 1 cetakan)

a. Sampah daun kering 100gram

b. Lem kayu/lem fox 100 gram

c. Pewarna secukupnya

d. Soda kaustik (NaOH) 5 gram

e. Air 1 liter

E. Cara kerja

1. Daun kering dikumpulkan, kemudian dipotong kecil-kecil.

2. Direbus dalam air mendidih, dengan menambahkan sedikit soda kaustik (NaOH) sampai daun lunak.

3. Setelah dingin, kemudian disaring dan dibersihkan dengan air bersih. Lalu dihaluskan dengan menggunakan blender sampai menjadi bubur (pulp).

4. Daun yang sudah menjadi bubur kertas disaring dan ditiriskan.

5. Setelah airnya berkurang, bubur kertas dicampur dengan lem kayu dengan perbandingan 1 : 1.

6. Jika diperlukan, untuk mempercantik hasilnya (kertas seni) ditambahkan pewarna.

7. Kemudian dari bubur kertas yang sudah dicampur dengan lem dicetak dalam cetakan sablon/kain scren dengan ketebalan kurang lebih 5 cm (tergantung kebutuhan) dan ukuran kertas folio.

8. Bubur yang sudah dicetak dikeringkan di bawah sinar matahari sampai kering sehingga diperoleh kertas seni untuk dibuat hiasan atau lainnya.

BAB IV

HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN

Sampah daun memang bukan sesuatu yang istimewa untuk dibahas. Akan tetapi menjadi menarik jika sampah tersebut diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat kembali selain digunakan menjadi kompos. Dalam hal ini penulis mencoba memanfaatkan sampah daun kering untuk digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni. Melihat kertas memiliki karakter cukup unik yang dihasilkan dari kompresi serat, permukaan yang kasar justru membuat kertas tampak lebih alami dan artistik. Serat pada kertas yang digunakan biasanya adalah serat alami dan mengandung selulosa, sehingga penulis mengambil daun untuk dijadikan bahan kertas karena daun memiliki syarat tersebut.

Kertas seni berbeda dengan kertas pada umumnya seperti kertas HVS atau buram. Kertas seni atau biasa disebut art paper dapat dibuat dari limbah kertas HVS, buram, koran, tissu atau dari bahan lainnya misalnya limbah pertanian yang salah satunya sampah daun. Dalam penggunaan tertentu, kertas seni mempunyai nilai seni yang lebih dibandingkan kertas tipis biasa yang kebanyakan polos teksturnya. Dilihat dari teksturnya, tekstur kertas seni agak kasar dan seratnya terlihat. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan tidak seluruhnya hancur ketika dijadikan bubur kertas sehingga menghasilkan tekstur yang tidak merata dan ini menjadikan kertas tersebut menjadi lebih menarik untuk dibuat hiasan dengan berbagai bentuk.

Langkah pertama untuk membuat kertas seni dari sampah daun adalah dengan mengumpulkan sampah daun kering kemudian dipotong kecil – kecil. Kemudian direbus dengan ditambahkan sedikit soda kaustik (NaOH) sampai daun menjadi lunak. Sampah daun yang digunakan adalah daun yang kering dikarenakan daun yang kering masih memiliki stuktur yang utuh dan warna yang bagus sehingga ketika untuk dijadikan bubur kertas diperoleh bahan pengisi yang baik dan tekstur yang indah pula. Jika menggunakan daun yang basah atau masih muda atau bahkan yang sudah membusuk akan membentuk bahan pengisi untuk bubur kertas kurang bagus. Pemotongan kecil –kecil digunakan untuk memudahkan dalam pengancuran menjadi bubur kertas. Perebusan daun dimaksudkan agar daun menjadi lunak, selain itu pada saat proses perebusan ditambahkan soda kaustik (NaOH) dimaksudkan untuk mempercepat proses pelunakan dan untuk menghilangkan getah – getah yang masih menempel pada daun. Natrium hidroksida (NaOH) atau dikenal dengan nama soda kaustik membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan dalam air. Soda kaustik kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan detergen. (www.wikipedia.com.)

Proses berikutnya, setelah daun lunak kemudian disaring dan dibersihkan dengan cara membilas dengan air bersih dimaksudkan agar zat yang ditambahkan tadi dapat larut. Karena untuk dijadikan kertas, daun harus dibuat dulu menjadi bubur maka daun yang sudah dibersihkan dihaluskan dengan diblender sampai hancur. Dalam penghancuran ini daun tidak seluruhnya halus seperti tepung tetapi masih ada serat – seratnya dan ini digunakan untuk mempercantik tekstur kertas.

Daun yang digunakan dalam penelitian ini dari berbagai macam jenis daun, namun komposisi yang paling banyak adalah daun akasia. Karena di lingkungan peneliti kebetulan banyak pohon akasianya. Menurut literatur yang diperoleh, akasia mengandung zat tanin yang merupakan komponen zat organik derivat polimer glikosida yang hasil ekstraknya dapat dibuat campuran lem. (www.lipi.co.id). Hal ini sangat kebetulan sekali, bahwa nantinya daya rekat kertas menjadi semakin kuat dan tidak mudah rapuh, mengingat karakter kertas yang mudah rapuh. Tetapi yang menjadi kelemahan ketika direbus, daun menjadi hitam sehingga kertas yang dihasilkan juga berwarna hitam. Dan karena hitam merupakan warna yang permanen yang sulit untuk diubah menjadi warna yang lain, maka warna hitam daun tersebut menjadi seni tersendiri untuk kertas seni dari sampah daun hasil penelitian kami.

Setelah daun menjadi bubur maka ke dalam bubur kertas ditambahkan lem untuk memperkuat daya rekat kertas sehingga tidak rapuh dan mudah sekali hancur terutama apabila terkena air. Dari campuran tadi, kemudian dicetak pada papan cetak sablon atau kain scren untuk mempermudah membentuknya menjadi kertas dengan ukuran folio dengan ketebalan 5 cm. Kertas kami cetak dengan ukuran yang agak tebal karena akan kami jadikan sebagai kartu ucapan. Setelah itu bubur kertas dikeringkan di bawah sinar matahari dan siap untu dijadikan hiasan. Dalam pemanfaatan bubur kertas ini, tidak hanya dapat dibuat menjadi sebuah bentuk, tetapi juga dapat dibuat menjadi bentuk yang lain seperti tempat tissu, kotak perhiasan, alas gelas dan sebagainya sesuai dengan kreatifitas masing – masing.

Dengan demikian, dari penelitian kami dapat sedikit membantu mengatasi sampah yang tidak akan pernah habis selama berjalannya waktu. Sampah yang semula tidak berguna dan diabaikan begitu saja, akan mendatangkan sesuatu yang bermanfaat jika kita jeli dan peka untuk memanfaatkan atau mengolahnya. Bahkan jika kreatif dalam mengolahnya tidak hanya akan menjadi hiasan untuk pribadi tetapi juga akan mempunyai nilai jual dan meningkatkan nilai ekonomi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni dengan tekstur yang lebih kasar dan serat terlihat.

2. Cara pembuatan kertas seni dari sampah daun kering yaitu dengan mengubah sampah daun kering menjadi bubur kertas (pulp) yang kemudian dicetak pada kain screen/cetakan sablon dan dikeringkan di bawah sinar matahari.

3. Kertas seni dari sampah daun kering dapat dimanfaatkan sebagai hiasan atau perlengkapan rumah tangga seperti kartu ucapan, undangan, kotak perhiasan, tempat tissue dan sebagainya.

B. SARAN

1. Perlu dikembangkan cara lain untuk mengolah sampah agar lebih berdaya guna dan tidak mengganggu lingkungan ekosistem.

2. Perlu sedikit kreatifitas yang lebih agar kertas seni memiliki ketahanan terhadap air dan tidak rapuh.

DAFTAR PUSTAKA

________.2008. Natrium Hidroksida. On line : www.wikipedia.com. Diakses tanggal : 15 Desember 2008.

Didixz. 2008. Kertas limbah. On line : http://www.kertas-nyeni.blogspot.com. Diakses pada tanggal : 8 Desember 2008.

Elvira Novianti Nurwanjani. 2006. Kreasi Cantik Dari Bubur Kertas. Jakarta : Kawan Pustaka.

Nooryan Bahari. 2008. Pembuatan Bubur Kertas.On line : www.indosat.net.id. Diakses tanggal : 26 Oktober 2008.

Ranwerw. 2008. Pengertian Daun. On line : www.alamkita.com. Diakses tanggal : 8 Desember 2008.

Sugiyanto. 2008. Akasia. On line : www.lipi.co.id. Diakses tanggal : 15 Desember 2008.

VanCleave, Janice. 2003. Proyek-Proyek Kimia. Bandung : PT. Intan Sejati.

Lampiran :

1. Foto pemotongan sampah daun untuk proses perebusan.

2. Foto proses perebusan daun.

3. Foto proses pembuatan bubur kertas.

4. Foto proses pencetakan bubur kertas.

5. Hasil Penjemuran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar