Cari Blog Ini

Minggu, 02 Mei 2010

LEBIH DEKAT DENGAN SISWA
KUNCI SUKSES UN 2010 SEKOLAH “PINGGIRAN”

SMA Negeri 1 Girimarto! Di mana itu? Apa istimewanya? Mungkin dari pembaca sekalian tidak lebih dari 1 % yang telah mengetahui keberadaannya, apalagi mengetahui potensi yang dimilikinya, tahu tempatnya pun saya rasa hal yang luar biasa. SMA Negeri 1 Girimarto merupakan salah satu SMA Negeri yang berada di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Meski berstatus “negeri”, namun kelas rombel (rombongan belajar)-nya belum sebesar sekolah-sekolah favorit yang ada di pusat kota. Kata orang Jawa “tinimbak buk” (dari pada tidak ada), jadi awalnya siswa yang masuk ke SMA Maron (Sebutan untuk SMAN 1 Girimarto di daerah kami) itu hanya sekedar mengisi waktu untuk menunggu mereka dewasa sehingga siap untuk dinikahkan atau dicarikan kerja. Atau jika tidak, mereka yang sekolah di sana itu hanya terpaksa karena nilai mereka jeblok sehingga tidak diterima di sekolah favorit atau kalaupun ada yang pandai itu karena mereka tidak punya biaya untuk melanjutkan ke sekolah favorit karena membutuhkan biaya yang lebih mahal dan transport yang lebih.
Sehingga lumrah jika SMA Maron dipandang sebelah mata oleh banyak khalayak terutama di Kabupaten Wonogiri karena melihat input siswanya yang seperti itu. Dan itu juga berimbas pada kepicikan orang yang menganggap guru yang mengajar di SMA Maron itu tidak lebih jauh dari siswanya. Ini membuat miris hati kami sebagai pelaku yang mengolah siswa dengan input seperti itu.
Boleh menganggap sepele keberadaan sekolah kami, tapi jangan sekali-kali menganggap remeh cara kerja kami…. Tahun 2010 ini merupakan momentum bagi kami untuk menunjukkan jati diri kami yang sebenarnya. Begitu hasil ujian nasional SMA tanggal 26 April 2010 diumumkan, serta merta public Wonogiri menyebut-nyebut SMA 1 Girimarto, tak ketinggalan pula beberapa media massa menyebutkan nama SMA N 1 Girimarto. Namun sayang…..yang mereka sebut dan mereka tulis sangat “menyakitkan” hati kami, hanya karena Kami satu-satunya SMA Negeri di Wonogiri yang dapat meluluskan siswa 100%. Sungguh ironis sekali…. Meski kami dicurigai melakukan kecurangan dalam UN 2010…tapi dalam hati kami merasa bersyukur karena dosa kami semakin berkurang dan tentunya pahala kami semakin bertambah karena sikap ikhlas kami menerima tindak ketidakadilan. Itu harapan kami. Bersyukur lagi, dengan banyaknya berita yang menyebut SMA Maron tercinta berarti pula bahwa secara tidak sadar mereka mempopulerkan nama SMA N 1 Girimarto ke khayalak yang lebih luas meski masih dalam image yang “negative” tetapi paling tidak public sudah mau menyebut SMA N 1 Girimarto yang selama ini mungkin mereka tak mengetahui kalau sebenarnya ada SMA N 1 Girimarto. Tetapi meskipun mereka memperolok kami dengan menuduh kami berlaku curang, kami yakin dalam hati mereka bertanya-tanya “caranya bagaimana kok bisa meloloskan siswa 100%, padahal di sekolah favoritpun tidak ada yang 100%?” sebenarnya itu pertanyaan yang kami tunggu-tunggu dari mereka untuk dilontarkan kepada kami sehingga kami akan senang hati untuk menguraikannya.
Bukan maksud kami hanya sekedar mengejar nilai dan angka kelulusan untuk mengantarkan “anak-anak” kami sampai 100%, itu hanya semata-mata ketulusan kami membantu mereka agar nantinya apa yang mereka perjuangkan selama 3 tahun ini tidak sia-sia hanya karena gagal di UN meski UN memang bukan segala-galanya. Karena melihat latar belakang mereka yang sangat minim dengan fasilitas, sarana prasarana bahkan mereka juga sangat minim dengan kasih sayang dan perhatian orang tua mereka sendiri (Orang tua merantau). Inilah senjata kami untuk mengantarkan mereka sampai 100%....bukan dengan fasilitas buku lengkap atau bimbingan belajar yang memberikan garansi lulus. Ketika kami tahu bahwa UN akan dilaksanakan pada bulan Maret 2010 sikap kami hanya pasrah. Karena itu sudah merupakan kebijakan, jadi mau tidak mau memang harus kami persiapkan. Kami mulai dengan fasilitas seadanya untuk mendownload Permendiknas No. 75 tahun 2009, dari situ kami tahu bagaimana UN nanti akan diselenggarakan meski akhirnya ada beberapa revisi karena melihat kondisi lapangan. Satu langkah cerdas yang dilaksanakan kurikulum kami yang mungkin hanya sedikit sekolah lain yang melakukannya adalah membentuk tim “guru asuh”. Dan ini sangat efektif sekali hasilnya, setiap 10 siswa dibimbing 1 guru asuh dan di bawah coordinator wali kelas masing-masing dalam tiap kelasnya. Guru asuh di sini bertugas membimbing siswa, memperhatikan, mengawasi belajarnya/aktifitasnya, dan memfasilitasi psikologisnya karena sekaligus mendampingi peran sebagai orang tuanya. Dengan demikian segala permasalahan yang dihadapi siswa, guru akan detail memperhatikkannya dan otomatis ini akan membangun kedekatan antara guru dan siswa sekaligus dapat membangun spirit mereka dalam menghadapi UN. Setiap permasalahan yang muncul meskipun hanya dari 1 siswa itu akan kami pecahkan bersama, dan yang menjadi kebanggaan kami “semua guru dekat dengan mereka”. Semisal ada guru mengungkapkan 1 masalah siswa, maka guru yang lain dengan cepat akan tahu siapa siswa tersebut dan segera meresponnya. Dan itu mungkin kelebihan kami, karena saya yakin di sekolah lain belum tentu demikian apalagi di sekolah yang dalam kategori memiliki rombel yang besar. Kami sadar, jika kami hanya mengejar kemampuan intelektual anak-anak kami itu hanya akan membuat kami “sesak nafas”. Dengan input yang pas-pasan bahkan tergolong rendah, fasilitas sarana prasarana yang sangat minim hal yang mustahil kalau kami hanya menuntut mereka belajar sendiri sehingga diperoleh nilai yang baik atau bahkan dapat lulus.
Dalam pembelajaran untuk mempersiapkan UN, langkah-langkah kami juga tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain. Kami memberikan soal-soal prediksi yang kami foto kopikan dari SMA Kota lain atau yang kami peroleh dari forum MGPM Guru Mapel UN. Kami juga memberikan jam tambahan seperti sekolah-sekolah lain, cuma bedanya anak-anak sekolah lain banyak yang mampu mencari bimbingan belajar di luar sekolah tapi anak-anak kami cukup dengan bimbingan bapak-ibu guru yang ada di sekolah karena mereka tak mampu untuk membayar bimbel. Dari situ, timbul naluri kami sebagai orang tuanya untuk menyisihkan waktu dan tenaga dengan penuh kesabaran untuk membimbing mereka secara intensif. Bahkan kadang kala ada anak yang tidak datang atau sering terlambat dalam mengikuti pelajaran tambahan, kami dekati atau bahkan kami jemput ke rumahnya untuk kami rangkul sebagaimana teman-temannya yang lain. Padahal sebagian besar tenaga pengajar SMA N 1 Girimarto berasal dari luar kecamatan Girimarto yang jarak rata-rata yang mereka tempuh lebih dari 20Km. Namun beliau-beliau dengan ikhlas dan penuh semangat tetap datang tepat waktu ketika harus masuk jam 06.15 WIB dan pulang lebih dari jam 15.00 WIB demi anak-anak mereka.
Tak ada yang mengelak jika ditanya persiapan menghadapi UN semua tidak tegang, panik, cemas, was-was baik siswa, guru atau bahkan kepala sekolah. Ikhtiar sudah kami laksanakan, namun kami meyakini bahwa ALLAH SWT akan memberikan nilai lebih untuk hambaNya yang meminta lebih tentunya diikuti dengan usaha yang lebih pula. Selama 7 malam setiap malam Jum’at kami memohon dengan do’a bersama melalui sholat Tahajud untuk meminta pertolongan-Nya. Tidak hanya itu, kami budayakan untuk sholat Dhuha pada pagi harinya dan sholat jamaah pada waktu dzuhur. Dan menjelang UN kami adakan “spiritual building” seadanya untuk memotivasi dan menguatkan semangatnya yang dipandu oleh bapak-ibu guru sendiri tanpa bantuan dari pihak luar karena bukan kami tak mampu untuk membayar tryner tapi kami meyakini jika disampaikan oleh “orang tuanya” sendiri maka akan lebih mengena dari pada disampaikan oleh orang lain yang belum dikenalnya apalagi harus mengeluarkan biaya yang tidak murah.
Dalam pelaksanaan UN, aturan POS UN dari BSNP sudah jelas kami pahami dan itu tidak mungkin kami langgar karena akan mempertaruhkan jabatan dan kehormatan sebagai guru. Ketika tidak boleh masuk ke dalam ruang ujian kecuali pengawas dan perserta ujian, kami pun patuh akan hal itu. Sampai absen pengawas pun kami lakukan di ruang panitia pelaksanaan UN. Ketika diatur bahwa LJK UN harus disegel diruang ujian oleh pengawas ujian, kamipun tak berani untuk menentangnya dan hanya berharap serta berdo’a semoga anak-anak tidak salah dalam pengisian identitas dan tidak ada LJK yang tercecer. Dan Alhamdulillah….ALLAH SWT sangat sayang kepada kami karena kami telah melaksanakan aturan sebagaimana mestinya. Pelaksanaan UN berjalan lancar dan tak ada satupun jawaban yang tercecer atau hambatan-hambatan lain.
Dan ALLAH memang sayang kepada kami…kami diberi hadiah yang lebih oleh ALLAH atas usaha kami. Jika dipikir dengan logika, kami tak akan mampu membawa anak didik kami lulus 100% karena melihat input dan fasilitas yang ada. Itu semua karena kedekatan kami dengan mereka, mereka tak akan sanggup mengecawakan kami atas semua yang telah kami usahakan untuk mereka. Terima kasih untuk semuanya….Syukur kami yang tiada terkira atas KebesaranMu ya ALLAH….

BRAVO..TEAM TEACHING SMA NEGERI 1 GIRIMARTO….KITA TUNJUKKAN BAHWA KITA BUKAN TIM YANG LEMAH DAN SELALU KALAH PALING TIDAK UNTUK KEMENANGAN ANAK-ANAK KITA…MESKI INI HANYA SEBUAH KEBENARAN YANG BISA KITA AKUI SENDIRI
Penulis: Aku ada karenamu..dan untukmu aku ada…
SUSI SISWANTI, S.Pd (SMA N 1 GIRIMARTO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar