Membangun dunia pengabdian melalui eksistensi guru dan birokrat dalam blog, Membangun keluarga melalui komitmen kebersamaan tentang pikiran bahagia dalam blog, Membangun blog sebagai istana kecil bagi Raja, Ratu dan Pangeran Mahkota.... sebuah kebahagiaan subjektif bagi keluarga kami (Regar Family)
Cari Blog Ini
Selasa, 02 November 2010
Jumat, 17 September 2010
PEMIMPIN BARU WONOGIRI
Alhamdulillah.....Ternyata harapan adalah sebuah doa.
Selamat kepada Pak Danar atas hasil Pemilukada tgl 16 sept 2010. Semoga panjenengan yang akan menjadi pemimpin baru wonogiri mampu membawa wonogiri ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang.
Berbahagialah Pak Danar! karena sesungguhnya tidak banyak dari kita yang di Wonogiri bisa mendapat amanah yang begitu mulia seperti bapak saat ini.
Semoga bisa menjadi kebaikan kita bersama..... Amiinn
Menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.
Dalam islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan dengan hal tersebut,diantaranya sebagai berikut:
Niat yang Lurus
Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan.Lalu iringi hal itu dengan mengharapkan keridhaan-Nya saja.Kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.
Laki-Laki
Wanita sebaiknya tidak memegang tampuk kepemimpinan. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Tidak akan beruntung kaum yang dipimpim oleh seorang wanita (Riwayat Bukhari dari Abu Bakarah Radhiyallahu’anhu).
Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin.Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Berpegang pada Hukum Allah.
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49). Jika ia meninggalkan hukum Allah, maka seharusnya dicopot dari jabatannya.
Memutuskan Perkara Dengan Adil
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).
Tidak Menutup Diri Saat Diperlukan Rakyat.
Hendaklah selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat.Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”
Tidak Menerima Hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya.Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).
Mencari Pemimpin yang Baik
Rasulullah bersabda,”Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau menjadikan seorang khalifah kecuali ada bersama mereka itu golongan pejabat (pembantu).Yaitu pejabat yang menyuruh kepada kebaikan dan mendorongnya kesana, dan pejabat yang menyuruh kepada kemungkaran dan mendorongnya ke sana.Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah,” (Riwayat Bukhari dari Abu said Radhiyallahu’anhu).
Lemah Lembut
Doa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.
Tidak Meragukan dan Memata-matai Rakyat.
Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).
Jumat, 06 Agustus 2010
Kamis, 05 Agustus 2010
Selasa, 18 Mei 2010
Pasang iklan gratis tis tis tis ..... eeee masih dapat bonus
Dalam gayabebas.com versi baru ini,
• Tetap ada bonus login Rp.25 / hari
• Tetap ada bonus downline Rp.500 / downline
• Tetap ada komisi 10% dari setiap aktifitas downline.
Dalam gayabebas.com versi baru ini, rekaman data login dan klik iklan yang ada di gayabebas.com versi lama telah di-reset /dihapus.
Jumlah downline yang telah anda dapatkan di gayabebas versi lama TIDAK dihapus - hanya di tangguhkan sampai yang bersangkutan (downline anda) melakukan login di gayabebas versi baru ini.
Gabung disini :
http://gayabebas.com/?r=zoomar_81
Minggu, 02 Mei 2010
KUNCI SUKSES UN 2010 SEKOLAH “PINGGIRAN”
SMA Negeri 1 Girimarto! Di mana itu? Apa istimewanya? Mungkin dari pembaca sekalian tidak lebih dari 1 % yang telah mengetahui keberadaannya, apalagi mengetahui potensi yang dimilikinya, tahu tempatnya pun saya rasa hal yang luar biasa. SMA Negeri 1 Girimarto merupakan salah satu SMA Negeri yang berada di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Meski berstatus “negeri”, namun kelas rombel (rombongan belajar)-nya belum sebesar sekolah-sekolah favorit yang ada di pusat kota. Kata orang Jawa “tinimbak buk” (dari pada tidak ada), jadi awalnya siswa yang masuk ke SMA Maron (Sebutan untuk SMAN 1 Girimarto di daerah kami) itu hanya sekedar mengisi waktu untuk menunggu mereka dewasa sehingga siap untuk dinikahkan atau dicarikan kerja. Atau jika tidak, mereka yang sekolah di sana itu hanya terpaksa karena nilai mereka jeblok sehingga tidak diterima di sekolah favorit atau kalaupun ada yang pandai itu karena mereka tidak punya biaya untuk melanjutkan ke sekolah favorit karena membutuhkan biaya yang lebih mahal dan transport yang lebih.
Sehingga lumrah jika SMA Maron dipandang sebelah mata oleh banyak khalayak terutama di Kabupaten Wonogiri karena melihat input siswanya yang seperti itu. Dan itu juga berimbas pada kepicikan orang yang menganggap guru yang mengajar di SMA Maron itu tidak lebih jauh dari siswanya. Ini membuat miris hati kami sebagai pelaku yang mengolah siswa dengan input seperti itu.
Boleh menganggap sepele keberadaan sekolah kami, tapi jangan sekali-kali menganggap remeh cara kerja kami…. Tahun 2010 ini merupakan momentum bagi kami untuk menunjukkan jati diri kami yang sebenarnya. Begitu hasil ujian nasional SMA tanggal 26 April 2010 diumumkan, serta merta public Wonogiri menyebut-nyebut SMA 1 Girimarto, tak ketinggalan pula beberapa media massa menyebutkan nama SMA N 1 Girimarto. Namun sayang…..yang mereka sebut dan mereka tulis sangat “menyakitkan” hati kami, hanya karena Kami satu-satunya SMA Negeri di Wonogiri yang dapat meluluskan siswa 100%. Sungguh ironis sekali…. Meski kami dicurigai melakukan kecurangan dalam UN 2010…tapi dalam hati kami merasa bersyukur karena dosa kami semakin berkurang dan tentunya pahala kami semakin bertambah karena sikap ikhlas kami menerima tindak ketidakadilan. Itu harapan kami. Bersyukur lagi, dengan banyaknya berita yang menyebut SMA Maron tercinta berarti pula bahwa secara tidak sadar mereka mempopulerkan nama SMA N 1 Girimarto ke khayalak yang lebih luas meski masih dalam image yang “negative” tetapi paling tidak public sudah mau menyebut SMA N 1 Girimarto yang selama ini mungkin mereka tak mengetahui kalau sebenarnya ada SMA N 1 Girimarto. Tetapi meskipun mereka memperolok kami dengan menuduh kami berlaku curang, kami yakin dalam hati mereka bertanya-tanya “caranya bagaimana kok bisa meloloskan siswa 100%, padahal di sekolah favoritpun tidak ada yang 100%?” sebenarnya itu pertanyaan yang kami tunggu-tunggu dari mereka untuk dilontarkan kepada kami sehingga kami akan senang hati untuk menguraikannya.
Bukan maksud kami hanya sekedar mengejar nilai dan angka kelulusan untuk mengantarkan “anak-anak” kami sampai 100%, itu hanya semata-mata ketulusan kami membantu mereka agar nantinya apa yang mereka perjuangkan selama 3 tahun ini tidak sia-sia hanya karena gagal di UN meski UN memang bukan segala-galanya. Karena melihat latar belakang mereka yang sangat minim dengan fasilitas, sarana prasarana bahkan mereka juga sangat minim dengan kasih sayang dan perhatian orang tua mereka sendiri (Orang tua merantau). Inilah senjata kami untuk mengantarkan mereka sampai 100%....bukan dengan fasilitas buku lengkap atau bimbingan belajar yang memberikan garansi lulus. Ketika kami tahu bahwa UN akan dilaksanakan pada bulan Maret 2010 sikap kami hanya pasrah. Karena itu sudah merupakan kebijakan, jadi mau tidak mau memang harus kami persiapkan. Kami mulai dengan fasilitas seadanya untuk mendownload Permendiknas No. 75 tahun 2009, dari situ kami tahu bagaimana UN nanti akan diselenggarakan meski akhirnya ada beberapa revisi karena melihat kondisi lapangan. Satu langkah cerdas yang dilaksanakan kurikulum kami yang mungkin hanya sedikit sekolah lain yang melakukannya adalah membentuk tim “guru asuh”. Dan ini sangat efektif sekali hasilnya, setiap 10 siswa dibimbing 1 guru asuh dan di bawah coordinator wali kelas masing-masing dalam tiap kelasnya. Guru asuh di sini bertugas membimbing siswa, memperhatikan, mengawasi belajarnya/aktifitasnya, dan memfasilitasi psikologisnya karena sekaligus mendampingi peran sebagai orang tuanya. Dengan demikian segala permasalahan yang dihadapi siswa, guru akan detail memperhatikkannya dan otomatis ini akan membangun kedekatan antara guru dan siswa sekaligus dapat membangun spirit mereka dalam menghadapi UN. Setiap permasalahan yang muncul meskipun hanya dari 1 siswa itu akan kami pecahkan bersama, dan yang menjadi kebanggaan kami “semua guru dekat dengan mereka”. Semisal ada guru mengungkapkan 1 masalah siswa, maka guru yang lain dengan cepat akan tahu siapa siswa tersebut dan segera meresponnya. Dan itu mungkin kelebihan kami, karena saya yakin di sekolah lain belum tentu demikian apalagi di sekolah yang dalam kategori memiliki rombel yang besar. Kami sadar, jika kami hanya mengejar kemampuan intelektual anak-anak kami itu hanya akan membuat kami “sesak nafas”. Dengan input yang pas-pasan bahkan tergolong rendah, fasilitas sarana prasarana yang sangat minim hal yang mustahil kalau kami hanya menuntut mereka belajar sendiri sehingga diperoleh nilai yang baik atau bahkan dapat lulus.
Dalam pembelajaran untuk mempersiapkan UN, langkah-langkah kami juga tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain. Kami memberikan soal-soal prediksi yang kami foto kopikan dari SMA Kota lain atau yang kami peroleh dari forum MGPM Guru Mapel UN. Kami juga memberikan jam tambahan seperti sekolah-sekolah lain, cuma bedanya anak-anak sekolah lain banyak yang mampu mencari bimbingan belajar di luar sekolah tapi anak-anak kami cukup dengan bimbingan bapak-ibu guru yang ada di sekolah karena mereka tak mampu untuk membayar bimbel. Dari situ, timbul naluri kami sebagai orang tuanya untuk menyisihkan waktu dan tenaga dengan penuh kesabaran untuk membimbing mereka secara intensif. Bahkan kadang kala ada anak yang tidak datang atau sering terlambat dalam mengikuti pelajaran tambahan, kami dekati atau bahkan kami jemput ke rumahnya untuk kami rangkul sebagaimana teman-temannya yang lain. Padahal sebagian besar tenaga pengajar SMA N 1 Girimarto berasal dari luar kecamatan Girimarto yang jarak rata-rata yang mereka tempuh lebih dari 20Km. Namun beliau-beliau dengan ikhlas dan penuh semangat tetap datang tepat waktu ketika harus masuk jam 06.15 WIB dan pulang lebih dari jam 15.00 WIB demi anak-anak mereka.
Tak ada yang mengelak jika ditanya persiapan menghadapi UN semua tidak tegang, panik, cemas, was-was baik siswa, guru atau bahkan kepala sekolah. Ikhtiar sudah kami laksanakan, namun kami meyakini bahwa ALLAH SWT akan memberikan nilai lebih untuk hambaNya yang meminta lebih tentunya diikuti dengan usaha yang lebih pula. Selama 7 malam setiap malam Jum’at kami memohon dengan do’a bersama melalui sholat Tahajud untuk meminta pertolongan-Nya. Tidak hanya itu, kami budayakan untuk sholat Dhuha pada pagi harinya dan sholat jamaah pada waktu dzuhur. Dan menjelang UN kami adakan “spiritual building” seadanya untuk memotivasi dan menguatkan semangatnya yang dipandu oleh bapak-ibu guru sendiri tanpa bantuan dari pihak luar karena bukan kami tak mampu untuk membayar tryner tapi kami meyakini jika disampaikan oleh “orang tuanya” sendiri maka akan lebih mengena dari pada disampaikan oleh orang lain yang belum dikenalnya apalagi harus mengeluarkan biaya yang tidak murah.
Dalam pelaksanaan UN, aturan POS UN dari BSNP sudah jelas kami pahami dan itu tidak mungkin kami langgar karena akan mempertaruhkan jabatan dan kehormatan sebagai guru. Ketika tidak boleh masuk ke dalam ruang ujian kecuali pengawas dan perserta ujian, kami pun patuh akan hal itu. Sampai absen pengawas pun kami lakukan di ruang panitia pelaksanaan UN. Ketika diatur bahwa LJK UN harus disegel diruang ujian oleh pengawas ujian, kamipun tak berani untuk menentangnya dan hanya berharap serta berdo’a semoga anak-anak tidak salah dalam pengisian identitas dan tidak ada LJK yang tercecer. Dan Alhamdulillah….ALLAH SWT sangat sayang kepada kami karena kami telah melaksanakan aturan sebagaimana mestinya. Pelaksanaan UN berjalan lancar dan tak ada satupun jawaban yang tercecer atau hambatan-hambatan lain.
Dan ALLAH memang sayang kepada kami…kami diberi hadiah yang lebih oleh ALLAH atas usaha kami. Jika dipikir dengan logika, kami tak akan mampu membawa anak didik kami lulus 100% karena melihat input dan fasilitas yang ada. Itu semua karena kedekatan kami dengan mereka, mereka tak akan sanggup mengecawakan kami atas semua yang telah kami usahakan untuk mereka. Terima kasih untuk semuanya….Syukur kami yang tiada terkira atas KebesaranMu ya ALLAH….
BRAVO..TEAM TEACHING SMA NEGERI 1 GIRIMARTO….KITA TUNJUKKAN BAHWA KITA BUKAN TIM YANG LEMAH DAN SELALU KALAH PALING TIDAK UNTUK KEMENANGAN ANAK-ANAK KITA…MESKI INI HANYA SEBUAH KEBENARAN YANG BISA KITA AKUI SENDIRI
Penulis: Aku ada karenamu..dan untukmu aku ada…
SUSI SISWANTI, S.Pd (SMA N 1 GIRIMARTO)
Sabtu, 01 Mei 2010
PEMANFAATAN SAMPAH DAUN SEBAGAI BAHAN KERTAS SENI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Melihat lingkungan di sekitar kita, banyak sampah menumpuk di sana – sini yang menjadikan lingkungan kita menjadi kotor dan kurang nyaman untuk di tempati. Mulai dari sampah plastik, kertas, karet, makanan sisa dan sebagainya. Serta yang paling banyak dijumpai di sekitar kita adalah sampah organic dari daun yang berguguran atau pohon yang tumbang. Yang menjadi masalah dari semua itu adalah tidak maksimalnya pengelolaan atau penanganan sampah baik yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri maupun pemerintah.
Sudah dilakukan berbagai upaya untuk menangani sampah-sampah tersebut. Misalnya di dalam kota besar dibuatkan suatu wilayah atau tempat yang khusus digunakan untuk membuang sampah akhir (TPA), tetapi hal ini juga memicu masalah baru karena sampah yang menumpuk tidak bisa habis dan menimbulkan polusi di lingkungan sekitar sekitarnya. Demikian juga di daerah yang masih terbilang ada lahan untuk membuang sampah, akan tetapi masyarakatnya yang kurang mempedulikan kesehatan lingkungannya. Ada yang memanfaatkan sampah daun untuk digunakan sebagai pupuk kompos meski jumlahnya sedikit, tetapi di sisi lain sampah plastic tidak bisa diberdayakan dan hanya dibuang atau dibakar sehingga akan merusak struktur tanah atau tanah menjadi tidak subur.
Ada suatu solusi agar sampah-sampah itu tidak menjadi masalah terus di kemudian hari sehingga ekosistem tetap terus terjaga. Yaitu dengan mengelola sampah itu menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Mengingat semakin berkurangnya lahan untuk membuang sampah padahal setiap hari sampah selalu bertambah dan juga meskipun samapah itu dapat dibakar, namun juga tidak menyebabkan sampah itu habis sebaliknya akan menyebabkan polusi udara di lingkungan sekitar.
Dalam pengelolaan sampah agar menjadi barang yang lebih bermanfaat, maka diperlukan perhatian dari semua pihak atau kesadaran pribadi dari setiap manusia yang hidup di bumi ini. Yaitu mulai dari setiap diri pribadi untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat. Kemudian memisahkan sampah organic atau anorganik untuk dikelola dengan cara yang berbeda. Sampah organic dari sisa makan dapat digunakan sebagai makanan ternak atau sebagai bahan pembuat biogas. Sampah anorganik misalnya dari plastic dapat di daur ulang kembali menjadi barang/perlengkapan rumah tangga yang bermanfaat. Sampah kertas juga dapat di daur ulang sebagai kertas seni atau menjadi bubur kertas. Samapah organic dari pohon dapat digunakan sebagai pupuk kompos dan sebagainya.
Melihat dari hal – hal di atas, penulis mencoba menuangkan gagasan untuk membantu mengurangi sampah yang ada di sekitar yaitu dengan memanfaatkan sampah daun sebagai bahan pembuat kertas seni. Landasan yang menjadi pemikiran penulis untuk menuangkan gagasan ini adalah karena daerah yang menjadi tempat tinggal penulis adalah daerah pedesaan di mana banyak sampah dari pohon atau tumbuhan yang kurang termanfaatkan maka penulis mencoba memanfaatkan sampah daun untuk membuat kertas seni mengingat bahan dasar kertas juga berasal dari kayu sehingga penulis berasumsi bahwa daun dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas.
B. PERUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini akan dikaji beberapa masalah antara lain :
1. Apakah sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas?
2. Bagaimanakah cara pembuatan kertas dari sampah daun?
3. Apakah kertas dari sampah daun dapat bermanfaat?
C. PEMBATASAN MASALAH
Untuk mengarahkan permasalahan yang ada dari penelitian ini, maka diperlukan pembatasan masalah agar dapat disimpulkan dengan baik, yaitu:
1. Sampah yang digunakan dalam penelitian ini digunakan sampah daun kering yang ada di lingkungan SMA Negeri 1 Girimarto.
2. Kertas yang dibuat dalam penelitian ini adalah kertas seni.
D. TUJUAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengurangi sampah yang ada disekitar untuk dijadikan sebagai barang yang lebih bermanfaat.
2. Mengetahui apakah sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni.
3. Mempopulerkan kertas seni sebagai bahan untuk membuat perlengkapan rumah tangga atau hiasan yang dapat diperoleh dengan biaya yang tidak mahal.
E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Memanfaat barang yang sudah tidak berdaya guna untuk dibuat menjadi sesuatu yang bermanfaat.
2. Sedikit membantu dalam upaya menciptakan lingkungan yang nyaman, bersih dan sehat.
3. Meningkatkan kreatifitas untuk memanfaatkan sampah daun kering sebagai bahan pembuat kertas seni.
F. HIPOTESIS
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni.
2. Pembuatan kertas seni dari sampah daun kering dapat dibuat dengan membuat bubur kertas kering yang dicetak pada sebuah papan berukuran kertas A4.
3. Kertas seni dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat perlengkapan rumah tangga atau hiasan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN TENTANG SAMPAH DAUN KERING
Daun merupakan bagian dari tumbuhan yang keberadaannya sangat penting dalam proses fotosintesis. Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energy dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organism outrotrof obligat, maka ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energy cahaya menjadi energi kimia.
Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstrimnya bisa meruncing panjang. Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.
Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasamannya). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada yang gugur). (www.alamkita.com)
Daun tua yang kehilangan klorofilnya berguguran dari pohonnya dan ini akan menjadi sampah pada akhirnya. Sampah dari daun setiap hari aka nada dan tidak akan pernah habis selama tumbuhan masih ada. Sampah daun biasanya dimanfaatkan petani untuk pupuk kompos, namun hal ini juga tidak akan banyak dan masih menyisakan sampah. Apalagi di perkotaan, sampah daun tidak dimanfaat dan akan memenuhi tata ruang kota karena lahan untuk membuang sampah sangat terbatas sekali.
B. TINJAUAN TENTANG PEMBUATAN KERTAS
1. Sejarah Kertas
Keberadaan kertas dalam kehidupan manusia cukup penting, karena kertas berfungsi sebagai pencatat ilmu pengetahuan, media untuk promosi perdagangan, sarana untuk menyampaikan pikiran tentang gagasan, dan lain-lain. Di atas permukaannyalah terletak berbagai informasi yang ingin disampaikan, misalnya tulisan atau gambar.
Masalah utama yang dihadapi para pembuat kertas produksi missal saat ini yang dikerjakan dengan menggunakan mesin serba otomatis, serupa dengan masalah pembuat kertas di China pada zaman dahulu, yaitu masalah untuk mendapatkan dan menggunakan bahan-bahan yang cocok untuk pembuatan kertas, masalah bagaimana membuat bubur kertas dan membentuk kertas agar awet dan wujudnya menarik atau bagus, dan masalah bagaimana membuat kertas yang halus atau enak untuk disentuh dan menarik untuk dilihat.
Sebelum kertas diketemukan, manusia telah mengetahui bagaimana mengungkapkan perasaan dirinya melalui bahasa gambar dan bahasa tulisan , sehingga mereka berusaha mencari permukaan-permukaan benda yang sekiranya cocok untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Pada awalnya cara mereka mengungkapkan perasaan melalui suatu kegiatan menggambar, seperti menggurat, mengukir, mentakik atau menoreh di atas permukaan batu, tulang belulang, dan sebagainya.
Tanda-tanda yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, dapat dibagi menjadi dua grup:
1) Piktografi atau tulisan berupa gambar (picture writting) hanya obyek-obyek tertentu yang digambarkan.
2) Ideografi atau tulisan yang mengungkapkan gagasan (ideawriting), memperlihatkan lebih dari satu gambar dan semuanya mempunyai nilai simbolik.
Batu sebagai sarana untuk berkomunikasi lewat tulisan, hampir sama sebagaimana bahan tersebut digunakan sebagai patung. Melalui medium ekspresi ini, maka suatu angka yang tidak berurutan dari catatan sejarah telah dibuat dan berlaku untuk masa dunia moderen saat ini. Orang Mesir telah memahat hieroglyphs dalam monumen batu yang disebut obelisks. Salah satu obelisks kuno itu, sekarang ini berdiri tegak di Central Park, New York. Bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris (Irak sekarang), sejarahnya diperkirakan dimulai sejak 3000 tahun yang lalu. Orang-orang Sumeria menciptakan dan menggunakan huruf-huruf paku (cuneiform), yang merupakan tulisan pertama yang dikembangkan di dunia. Ketika Sumeria ditaklukan, si pemenang berbaur dengan orang-orang Sumeria dan mengambil alih tulisannya.
Pada waktu itu tulisan paku masih di atas batu. Orang-orang Chaldea dari Babylonia Kuno, telah mencap tanda-tanda dengan alat ukur tulang ke dalam tanah liat dalam berbagai ukuran dengan huruf-huruf paku. Tanah liat tersebut kemudian dibakar sehingga menjadi keras. Hasil dari kegiatan tresebut dikirimkan dari satu orang ke orang lain, seperti halnya tulisan kertas berharga dan surat-surat yang dipertukarkan saat ini.
Ashurbanipal, penguasa Assyria, telah membentuk perpustakaan yang berisi tulisan di atas tanah liat ini.Penggunaan beberapa logam seperti kuningan, tembaga, perunggu dan timah, tidaklah diketahui pada awal peradaban. Dalam Bibel, referensi dibuat terhadap pemakaian timah untuk tulisan-tulisan permanen. Logam-logam yang lain digunakan dalam pemeliharaan atau pengawetan perjanjian-perjanjian, hukum-hukum dan persekutuan-persekutuan. Orang-orang Rowawi menggunakan perunggu dalam mencatat peringatan-peringatan mereka dan dalam medan pertempuran para serdadu Romawi memahat keinginan-keinginan mereka pada gesper logam atau pada sarung pedang mereka. Sebagai benda kesayangan, maka barang-barang perunggu tersebut dipahat dan diukir dengan nama-nama atau simbol mereka pada awalnya, kemudian ditulisi untuk memperingati suatu peristiwa atau menerangkan alasan bagi pembuatan benda-benda perunggu tersebut, atau untuk menerangkan cara menggunakannya, atau untuk mencatat nama-nama dari para pembuatnya. Buku-buku besar tersusun dari lembaran-lembaran kayu telah dipakai sebelum masa Homer (abad ke 9 SM). Bahan utama berasal dari kotak kayu dan pohon-pohon citron. Setiap bagian kayu biasanya ditutup dengan suatu lapisan kayu halus tipis dari lilin, kapur atau plester dan tanda- tanda atau tulisan ditorehkan pada lapisan itu dengan menggunakan sebuah logam atau tulang yang berbentuk lancip. Teknik ini memungkinkan untuk menghapuskan tulisan dengan cara pelapisan kembali lembaran-lembaran kayu tersebut. Papan-papan atau lembaran kayu itu kemudian diikat bersama-sama dengan sabuk kulit, sehingga menjadi susunan buku yang disebut codex. Buku meja tetap dipakai hingga abad ke 14. Di negeri timur tanda-tanda itu ditulis dalam bilah-bilah bambu kering yang diikat bersama-sama sehingga membentuk bundelan atau ikatan. Barang tersebut tanggung dan sukar untuk menyimpannya. Setiap kali buku dipergunakan, maka tali itu harus diikatkan kembali. Orang-orang China dahulu kala, tidak memberi nomor pada bilah-bilah bambu tersebut, sehingga akan membingungkan urutannya jika tali-tali yang mengikat putus atau bilah-bilah tersebut dibongkar. Menempatkan kembali pada urutan semula dari bilah-bilah tersebut, seringkali tidak bisa dilakukan. Menulis pada daun-daun palem dan jenis tumbuh-tumbuhan lain telah dipraktekkan sejak jaman dahulu kala di Romawi dan negara-negara Timur dekat. Daun-daun palem yang lebar dan berstrip-strip dari berbagai ukuran panjang dan lebar, kira-kira 2 inchi dipotong. Sebuah alat dari logam yang berbentuk lancip digunakan untuk menoreh daun tersebut. Hasil torehan kemudian diisi dengan semacam cat yang dibuat dari arang sehingga tulisan-tulisan tersebut menjadi jelas dan menonjol. Setiap lembar daun ditusuki untuk membuat 2 buah lubang dan daun-daun tersebut diikat bersama dengan tali untuk menjadi sebuah buku. Pemakaian daun-daun dari berbagai pohon tersebut menghadirkan istilah kata "leaf" yang saat ini mempunyai arti bagian dari sebuah buku. Kulit dari berbagai macam pohon telah digunakan sebagai bahan tulisan, hampir pada setiap periode dan daerah. Di jaman latin telah digunakan kulit pohon bagian dalam, dikenal dengan nama liber. Pada waktu itu, pengertian liber adalah istilah untuk buku itu sendiri dan kata "library" berasal dari istilah liber tersebut. Orang-orang Indian Amerika telah menulis bahasa simbol mereka dengan tongkat-tongkat kayu dan cat cair pada kulit pohon birch putih dari Amerika Utara. Penduduk asli Central dan Amerika Selatan, termasuk Mexico telah banyak mempunyai kesempatan membuat semacam kertas dengan cara memukul kulit bagian dalam pohon-pohon moraceous. Sejarah tidak memperlihatkan bahwa penduduk asli apa yang sekarang disebut Amerika Serikat pernah membuat kertas dari suatu bentuk atau jenis. Parchment adalah suatu bahan berupa lembaran yang terbuat dari kulit binatang, telah menduduki tempat yang sangat unik dan hebat dalam sejarah evolusi kertas. Ia membangkitkan suatu perasaan antik dan dihubungkan dengan kualitas yang secara praktis tiada tara bandingannya. Parchment mempunyai daya tahan lama dan bisa bertahan sampai ratusan tahun. Parchment telah menjadi pembawa nilai yang sangat berarti bagi catatan-catatan dan cerita-cerita dari jaman klasik Yunani hingga abad pertengahan, dan banyak parchment kuno yang tetap ada hingga sekarang sebagai saksi terhadap bahan yang sangat bermanfaat ini. Kata " parchment" diambil dari Pergamum, sebuah kota kuno Mysia di Asia Kecil. Para sarjana berpendapat bahwa parchment atau kertas dari kulit mungkin sudah digunakan sejak 1500 SM, akan tetapi parchment tersebut tidak digunakan menjadi permukaan untuk menulis sampai sekitar 200 SM kemudian. Kulit binatang telah terbukti menjadi yang paling sulit untuk penyediaannya, dan selalu menjadi masalah; yang lunak kontra yang keras, berlubang-lubang serta daya penerimaan permukaan terhadap berbagai macam media. Kulit binatang juga kenyal serta kuat dari banyak manipulasi dan perlakuan tangan penyamak. Ia bisa diberi warna, disemir. dibengkokkan dan diberi perhiasan dengan cara ditatah, diukir, dilubangi dan dijahit. Daya tahan pemakaiannya kuat atau tahan lama dan jika digoresi, diukir, atau disimpan karena tidak terpakai, wujudnya tetap bagus. Parchment yang sebenarnya tidak seperti halnya kulit, terbuat dari belahan kulit domba. Bagian terkecil dan sisi bulu-bulu domba dari kulitnya dibuat menjadi skiver, yaitu bahan yang cocok untuk dipakai dalam penjilidan buku. Daging dan sisi-sisi dari kulit diubah menjadi parchment atau kertas kulit dan akan menjadi kualitas yang paling bagus. Vellum terbuat dari kulit anak sapi atau kulit anak domba dan biasanya terbuat dari seluruh kulit itu. Perbedaan antara Vellum dan parchment terlihat pada butir-butir dan tanda-tanda rambut yang biasanya menghasilkan permukaan yang tidak teratur. Parchment biasanya lebih konsisten dalam penampilan dan tidak memiliki sifat-sifat elusive ini. Parchment dan vellum harus digores, digosok dengan kapur dan direntangkan sehingga kulit mempunyai bentuk penampilan yang rata. Setelah itu ditaburi dengan pasir dari batu apung yang halus agar permukaannya menjadi bagus untuk menulis dan kaligrafi. Penulisan selama berabad-abad telah dilakukan dengaan sangat selektif dengan kulit untuk menjamin kesamaan warna dan kualitas permukaan dalam penjilidan yang memerlukan banyak halaman. Parchment tetap terus dipakai sepanjang masa Renaissance dan disebutkan bahwa untuk menghasilkan sebuah duplikat tunggal dari Bibel Gutenberg, diperlukan kulit domba sebanyak 300 ekor. Parchment dan vellum masih selalu dibutuhkan sampai saat ini untuk mendapatkan diploma, sertifikat, hak-hak patent dan sebagainya dalam keadaan yang bagus dan alamiah. Para penulis kaligrafi mendapatkan bahan-bahan ini agar sesuai dan ideal dalam membuat karya. Percobaan pertama yang telah sangat berhasil dengan gemilang untuk pembuatan sebuah barang yang menyerupai kertas moderen seperti yang telah banyak dikenal selama ini, telah dibuat di Mesir pada jaman dahulu. Suatu tanaman air yang dikenal dengan nama papyrus telah menghasilkan bahan tersebut. Papyrus merupakan suatu tanaman yang sangat menarik perhatian, tangkainya tumbuh dari 10 hingga 15 kaki tingginya. Tangkainya berbentuk segi tiga secara bersilangan dan disekeliling dasarnya tumbuh beberapa daun yang berserabut pendek. Papyrus sangat halus atau rata, tanpa bonggol-bonggol dan duri-duri yang menuju pada kelompok bunga besar, nyaman dan berbentuk rumbai. Tanaman tersebut tumbuh dengan indah ditepian danau yang kecil dan sungai-sungai di bagiaan Afrika. Berasal dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus, kertas papyrus dibuat. Bagian-bagian ini dipisahkan dengan alat yang tajam, jarum panjang, atau kepah rumah siput yang lancip dan kemudian ditaburkan di atas sebuah meja dengan suatu lapisan tipis dari air dalam bentuk dan ukuran yang diperlukan untuk lembaran-lembaran itu. Pada lapisan pertama dibuat dari tuangan ini, yang kedua ditempatkan secara melintang untuk membentuk suatu lembaran dari ketebalan yang dikehendaki, kemudian di-press dan dikeringkan di panas matahari, kemudian digosok benda-benda yang halus tapi keras. Paling banyak adalah 22 lembar yang bisa dipisahkan dari satu tangkai dan yang paling dekat isi batang kayu atau pusat, yang paling baik dijadikan kertas. Perdagangan kertas orang Mesir telah berkembang dengan pesat pada abad ke 3 dan berlanjut hingga abad ke 5 SM. Tumbuhnya pemakaian kulit binatang serta perubahan-perubahan geografis daerah sungai Nil, telah mendorong terhadap matinya papyrus. Penanaman menjadi sukar dan papyrus menurun dengan drastis. Kata "paper", "papier" dan "papel" diambil dari kata latin papyrus. Biblios merupakan terminologi latin yang digunakan untuk arti bagian dalam serabut (fiber) dari tanaman papyrus dan tulisan pada lembaran-lembaran papyrus dikenal dengan sebutan biblia. (http://www.kertas-nyeni.blogspot.com)
2. Bubur Kertas
Kertas memiliki karakter cukup unik, terdiri dari bahan tipis dan rata yang dihasilkan dari kompresi serat. Serat yang digunakan biasanya adalah serat alami dan mengandung selulosa. Permukaan yang kasar justru membuat kertas tampak lebih alami dan artistic. Kertas juga merupakan bahan yang ringan dan mudah digunakan. Umumnya, orang menggunakan kertas sebagai media untuk menulis, mencetak, menggambar, membungkus, mengemas serta banyak kegunaan lain yang dapat digunakan dari lembaran – lembaran kertas. Kertas dibuat dari bubur kertas (pulp) yang diolah menjadi kertas. Kertas umumnya berbahan dasar serat kayu atau serat alam. (www.indosat.net.id.)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah sampah daun kering.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di laboratorium MIPA SMAN 1 Girimarto. Waktu penelitian dilaksanakan pada Bulan Desember 2008
C. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen yaitu dengan mengolah sampah daun kering menjadi bubur kertas yang dicetak pada kain screen dan dikeringkan menjadi kertas seni.
Adapun tahapan penelitiannya :
1. Penentuan subyek penelitian
2. Persiapan alat dan bahan
3. Pelaksanaan
4. Pengamatan
5. Penulisan laporan
D. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Bleder
b. Ember/baskom
c. Skrap/pengaduk
d. Kain scren/cetakan sablon
e. Panci
f. Pemanas/kompor
g. Penyaring
2. Bahan (dalam ukuran 1 cetakan)
a. Sampah daun kering 100gram
b. Lem kayu/lem fox 100 gram
c. Pewarna secukupnya
d. Soda kaustik (NaOH) 5 gram
e. Air 1 liter
E. Cara kerja
1. Daun kering dikumpulkan, kemudian dipotong kecil-kecil.
2. Direbus dalam air mendidih, dengan menambahkan sedikit soda kaustik (NaOH) sampai daun lunak.
3. Setelah dingin, kemudian disaring dan dibersihkan dengan air bersih. Lalu dihaluskan dengan menggunakan blender sampai menjadi bubur (pulp).
4. Daun yang sudah menjadi bubur kertas disaring dan ditiriskan.
5. Setelah airnya berkurang, bubur kertas dicampur dengan lem kayu dengan perbandingan 1 : 1.
6. Jika diperlukan, untuk mempercantik hasilnya (kertas seni) ditambahkan pewarna.
7. Kemudian dari bubur kertas yang sudah dicampur dengan lem dicetak dalam cetakan sablon/kain scren dengan ketebalan kurang lebih 5 cm (tergantung kebutuhan) dan ukuran kertas folio.
8. Bubur yang sudah dicetak dikeringkan di bawah sinar matahari sampai kering sehingga diperoleh kertas seni untuk dibuat hiasan atau lainnya.
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
Sampah daun memang bukan sesuatu yang istimewa untuk dibahas. Akan tetapi menjadi menarik jika sampah tersebut diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat kembali selain digunakan menjadi kompos. Dalam hal ini penulis mencoba memanfaatkan sampah daun kering untuk digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni. Melihat kertas memiliki karakter cukup unik yang dihasilkan dari kompresi serat, permukaan yang kasar justru membuat kertas tampak lebih alami dan artistik. Serat pada kertas yang digunakan biasanya adalah serat alami dan mengandung selulosa, sehingga penulis mengambil daun untuk dijadikan bahan kertas karena daun memiliki syarat tersebut.
Kertas seni berbeda dengan kertas pada umumnya seperti kertas HVS atau buram. Kertas seni atau biasa disebut art paper dapat dibuat dari limbah kertas HVS, buram, koran, tissu atau dari bahan lainnya misalnya limbah pertanian yang salah satunya sampah daun. Dalam penggunaan tertentu, kertas seni mempunyai nilai seni yang lebih dibandingkan kertas tipis biasa yang kebanyakan polos teksturnya. Dilihat dari teksturnya, tekstur kertas seni agak kasar dan seratnya terlihat. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan tidak seluruhnya hancur ketika dijadikan bubur kertas sehingga menghasilkan tekstur yang tidak merata dan ini menjadikan kertas tersebut menjadi lebih menarik untuk dibuat hiasan dengan berbagai bentuk.
Langkah pertama untuk membuat kertas seni dari sampah daun adalah dengan mengumpulkan sampah daun kering kemudian dipotong kecil – kecil. Kemudian direbus dengan ditambahkan sedikit soda kaustik (NaOH) sampai daun menjadi lunak. Sampah daun yang digunakan adalah daun yang kering dikarenakan daun yang kering masih memiliki stuktur yang utuh dan warna yang bagus sehingga ketika untuk dijadikan bubur kertas diperoleh bahan pengisi yang baik dan tekstur yang indah pula. Jika menggunakan daun yang basah atau masih muda atau bahkan yang sudah membusuk akan membentuk bahan pengisi untuk bubur kertas kurang bagus. Pemotongan kecil –kecil digunakan untuk memudahkan dalam pengancuran menjadi bubur kertas. Perebusan daun dimaksudkan agar daun menjadi lunak, selain itu pada saat proses perebusan ditambahkan soda kaustik (NaOH) dimaksudkan untuk mempercepat proses pelunakan dan untuk menghilangkan getah – getah yang masih menempel pada daun. Natrium hidroksida (NaOH) atau dikenal dengan nama soda kaustik membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan dalam air. Soda kaustik kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan detergen. (www.wikipedia.com.)
Proses berikutnya, setelah daun lunak kemudian disaring dan dibersihkan dengan cara membilas dengan air bersih dimaksudkan agar zat yang ditambahkan tadi dapat larut. Karena untuk dijadikan kertas, daun harus dibuat dulu menjadi bubur maka daun yang sudah dibersihkan dihaluskan dengan diblender sampai hancur. Dalam penghancuran ini daun tidak seluruhnya halus seperti tepung tetapi masih ada serat – seratnya dan ini digunakan untuk mempercantik tekstur kertas.
Daun yang digunakan dalam penelitian ini dari berbagai macam jenis daun, namun komposisi yang paling banyak adalah daun akasia. Karena di lingkungan peneliti kebetulan banyak pohon akasianya. Menurut literatur yang diperoleh, akasia mengandung zat tanin yang merupakan komponen zat organik derivat polimer glikosida yang hasil ekstraknya dapat dibuat campuran lem. (www.lipi.co.id). Hal ini sangat kebetulan sekali, bahwa nantinya daya rekat kertas menjadi semakin kuat dan tidak mudah rapuh, mengingat karakter kertas yang mudah rapuh. Tetapi yang menjadi kelemahan ketika direbus, daun menjadi hitam sehingga kertas yang dihasilkan juga berwarna hitam. Dan karena hitam merupakan warna yang permanen yang sulit untuk diubah menjadi warna yang lain, maka warna hitam daun tersebut menjadi seni tersendiri untuk kertas seni dari sampah daun hasil penelitian kami.
Setelah daun menjadi bubur maka ke dalam bubur kertas ditambahkan lem untuk memperkuat daya rekat kertas sehingga tidak rapuh dan mudah sekali hancur terutama apabila terkena air. Dari campuran tadi, kemudian dicetak pada papan cetak sablon atau kain scren untuk mempermudah membentuknya menjadi kertas dengan ukuran folio dengan ketebalan 5 cm. Kertas kami cetak dengan ukuran yang agak tebal karena akan kami jadikan sebagai kartu ucapan. Setelah itu bubur kertas dikeringkan di bawah sinar matahari dan siap untu dijadikan hiasan. Dalam pemanfaatan bubur kertas ini, tidak hanya dapat dibuat menjadi sebuah bentuk, tetapi juga dapat dibuat menjadi bentuk yang lain seperti tempat tissu, kotak perhiasan, alas gelas dan sebagainya sesuai dengan kreatifitas masing – masing.
Dengan demikian, dari penelitian kami dapat sedikit membantu mengatasi sampah yang tidak akan pernah habis selama berjalannya waktu. Sampah yang semula tidak berguna dan diabaikan begitu saja, akan mendatangkan sesuatu yang bermanfaat jika kita jeli dan peka untuk memanfaatkan atau mengolahnya. Bahkan jika kreatif dalam mengolahnya tidak hanya akan menjadi hiasan untuk pribadi tetapi juga akan mempunyai nilai jual dan meningkatkan nilai ekonomi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Sampah daun kering dapat digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni dengan tekstur yang lebih kasar dan serat terlihat.
2. Cara pembuatan kertas seni dari sampah daun kering yaitu dengan mengubah sampah daun kering menjadi bubur kertas (pulp) yang kemudian dicetak pada kain screen/cetakan sablon dan dikeringkan di bawah sinar matahari.
3. Kertas seni dari sampah daun kering dapat dimanfaatkan sebagai hiasan atau perlengkapan rumah tangga seperti kartu ucapan, undangan, kotak perhiasan, tempat tissue dan sebagainya.
B. SARAN
1. Perlu dikembangkan cara lain untuk mengolah sampah agar lebih berdaya guna dan tidak mengganggu lingkungan ekosistem.
2. Perlu sedikit kreatifitas yang lebih agar kertas seni memiliki ketahanan terhadap air dan tidak rapuh.
DAFTAR PUSTAKA
________.2008. Natrium Hidroksida. On line : www.wikipedia.com. Diakses tanggal : 15 Desember 2008.
Didixz. 2008. Kertas limbah. On line : http://www.kertas-nyeni.blogspot.com. Diakses pada tanggal : 8 Desember 2008.
Elvira Novianti Nurwanjani. 2006. Kreasi Cantik Dari Bubur Kertas. Jakarta : Kawan Pustaka.
Nooryan Bahari. 2008. Pembuatan Bubur Kertas.On line : www.indosat.net.id. Diakses tanggal : 26 Oktober 2008.
Ranwerw. 2008. Pengertian Daun. On line : www.alamkita.com. Diakses tanggal : 8 Desember 2008.
Sugiyanto. 2008. Akasia. On line : www.lipi.co.id. Diakses tanggal : 15 Desember 2008.
VanCleave, Janice. 2003. Proyek-Proyek Kimia. Bandung : PT. Intan Sejati.
Lampiran :
1. Foto pemotongan sampah daun untuk proses perebusan.

2. Foto proses perebusan daun.

3. Foto proses pembuatan bubur kertas.

4. Foto proses pencetakan bubur kertas.

5. Hasil Penjemuran


