Cari Blog Ini

Kamis, 24 Juli 2014

Rubah dan Si Kuda Tua

 

Seorang petani memiliki seekor kuda yang setia, akan tetapi sayang kuda itu telah tua dan tidak dapat bekerja lagi. Petani tersebut setiap hari mengeluh tentang makanan yang harus diberikan kepada si Kuda Tua tersebut.
Suatu hari si Petani itu berkata dengan ketus, "Aku tidak bisa lagi memelihara kamu, tetapi aku masih bisa berbaik hati kepadamu, jika kamu mampu membuktikan bahwa kamu masih kuat untuk membawakan aku seekor singa. Kalau bisa, aku akan tetap memelihara kamu selama-lamanya. Tetapi untuk sekarang, pergilah dan tinggalkanlah kandang kudaku," usirnya sembari melepaskan si Kuda Tua itu pergi.
Kuda yang malang menjadi sangat sedih, dan masuk ke hutan untuk berlindung dari terpaan angin dan cuaca yang buruk. Di hutan tersebut, dia bertemu dengan seekor rubah yang berkata simpatik, "Mengapa kamu sangat murung, dan tampak berjalan dengan kusut?"
"Keserakahan dan kejujuran tidak dapat hidup bersama. Majikan, pemilikku telah melupakan semua jasa dan pelayanan yang aku berikan selama bertahun-tahun. Karena aku sudah tidak bisa lagi menarik bajak untuk membajak, maka dia pun tidak mau memberi aku makan lagi, bahkan mengusir aku pergi," kata si Kuda Tua itu dengan berlinang airmata.
"Tanpa pertimbangan apa-apa?" tanya si Rubah dengan nada iba.
Si Kuda Tua itu mengangguk. "Ya, dia hanya hanya berkata, apabila aku bisa membuktikan diri bahwa aku masih kuat, dan bisa menangkap seekor singa serta membawa singa tersebut ke hadapannya, maka dia akan tetap memeliharaku, tetapi dia tahu bahwa tugas itu merupakan tugas yang tidak mungkin bisa aku laksanakan," keluhnya.
Si Rubah yang cerdik itu berkata, "Aku akan menolong kamu, sekarang berbaringlah kamu di sini, luruskan kakimu seolah-olah kamu telah mati."
Si Kuda Tua itu pun melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Tidak lama kemudian, si Rubah mengunjungi sarang singa yang terletak tidak jauh dari sana. Dia lalu berkata, "Aku melihat seekor kuda yang sudah mati di sana, ikutlah bersamaku dan kamu akan mendapatkan mangsa yang lezat."
Si Singa pun ikut bersama rubah menuju ke tempat di mana si Kuda berbaring. Saat tiba, si Rubah berkata lagi, "Kamu tidak bisa makan dengan nyaman di sini. Aku mengusulkan agar kamu mengikat tubuhnya ke tubuhmu, lalu menariknya masuk ke sarangmu, di sana kamu bisa menikmatinya dengan tenang."
Usul tersebut terdengar sangat bagus, dan dia pun berdiri dekat si Kuda Tua agar si Rubah bisa mengikat tubuh mereka berdua dengan seutas tali. Saat si Rubah mengikatkan tali ke singa, dia juga mengikat kaki si Singa dengan kencang, lalu tali tersebut diikatkan ke ekor si Kuda Tua.
Setelah selesai, dia pun menepuk pundak si Kuda Tua, lalu berkata, "Tariklah wahai Kuda Tua! Tarik!"
Si Kuda Tua langsung meloncat dan berdiri, kemudian menarik si Singa di belakangnya. Si Singa menjadi sangat marah dan mengaum sepanjang hutan, dan hal itu membuat semua burung di hutan menjadi ketakutan dan beterbangan.
Tetapi si Kuda Tua tidak peduli dan tetap membiarkan si Singa mengaum. Dia tidak pernah berhenti berlari menuju rumah bekas majikannya, sampai akhirnya tiba di depan pintu rumah majikannya.
Ketika si Majikan melihatnya, dia pun menjadi sangat senang dan berkata kepada si Kuda Tua itu, "Kamu sepantasnya tinggal bersama aku. Aku akan memberimu makan dan menyenangkan kamu sepanjang hidupmu."

Selasa, 22 Juli 2014

SAKIT

Aku sakit
Dirawat di rumah sakit
Tubuh terasa sakit
Minum obat dan disuntik
Makan tidak enak
Tidur pun tak nyenyak

HARI BAHAGIA


Pada hari minggu,COSMO dan KALOLO pergi ke lapangan di dekat rumah kosong untuk bertanding bermain sepeda, dan permainanpun dimulai, di tengah - tengah permainan COSMO dan KALOLO mendengar suara minta tolong "KALOLO kau mendengar suara minta tolong tidak"tanya COSMO.
"Ya aku dengar"jawab KALOLO.
"ayo kita selidiki ke rumah itu" ajak COSMO.

"ayo" jawab KALOLO.
setelah sampai di rumah kosong, merekapun masuk dan menyelidikinya, ternyata suara itu adalah suara anak kecil.
"ayo kita lepaskan ikatan talinya".
"ayo".
tiba - tiba ada orang datang , merekapun sembunyi, ternyata orang itu adalah penculiknya , KALOLO melihat sebuah kayu yang kuat, KALOLOpun melawan dan menang , dan melaporkan ini ke kantor polisi , akhirnya mereka hidup bahagia selamanya.
 
 


Senin, 14 Juli 2014

Asal Usul Kota Banyuwangi

Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.
“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.
Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.
Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.
Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.
“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.
Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.
Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

Minggu, 13 Juli 2014

BUNGA MAWAR

kau sangat mempesona

warnamu yang indah membuatku ingin memetikmu

madu yang ada di dirimu membuat lebah menghisap madumu

 bunga mawar kau sangat indah

Sabtu, 12 Juli 2014

MENABUNG

sejak kelas 1, aku dilatih untuk hidup hemat. aku diwajibkan menabung di sekolah. sekarang, tabunganku sudah banyak jumlahnya. anak sekolah tidak baik jajan terlalu banyak. itu berarti pemborosan. di rumah, aku sudah sarapan.jadi, tidak perlu jajan lagi di sekolah. uang jajan kutabung, meskipun hanya sedikit.akan tetapi, lama - lama jadi
banyak juga. seperti kata peribahasa, sedikit demi sedikit, lama - lama jadi bukit.setiap kali aku membuka buku tabunganku, aku sangat senang . dengan uang tabunganku itu, aku dapat membeli kebutuhan seklahku sendiri.berarti,aku sudah meringankan beban orang tua.

Jumat, 11 Juli 2014

Palestina yang Sangat Menyedihkan



Plestina kau sangat menyedihkan
karena serangan Israil yang kejam
banyak orang mati karena serangan
Palestina aku sangat sedih kepadamu